fbpx
Resolusi 2020: Tikungan Terjal dan Optimisme Kaum Rebahan di Era Digital

Resolusi 2020 : Tikungan Terjal dan Optimisme Kaum Rebahan di Era Digital

-

Memasuki penghujung tahun 2019 kemarin, ramai kita saksikan sebagian orang berbondong-bondong untuk menyiapkan resolusi untuk menyambut pergantian tahun. Setiap tahun, ketika tahun baru segera tiba, orang-orang berbicara tentang membuat resolusi tahun baru atau dikenal dalam bahasa Inggris dengan New Year’s Resolution. Sebuah resolusi adalah sebuah harapan atau tekad yang dibangun terhadap diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan menghentikan sesuatu yang buruk.

Sontak kebanyakan warganet mem-posting resolusinya di halaman pesbuk mereka, ada juga yang menampilkannya melalui instastory ataupun status whatsapp mereka. Segala harapan dan tekad baik diperlihatkan, mulai dari niat untuk meninggalkan kebiasaan buruk, hidup sehat dengan rajin berolahraga, mengatur pola makan agak tak gampang terkena penyakit maag (biasanya ini menjadi resolusi mahasiswa yang ngekos, agar tak lagi melulu berhadapan dengan mie-instan dan suplemen makanan hehe), ataupun hal-hal yang sifatnya dapat menunjang pendapatan dalam kehidupan dan lainnya. Ada juga yang menuliskan resolusinya untuk bisa lebih berguna dan bermanfaat bagi sesama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dengan mempersiapkan segala bentuk schedule yang akan diaktualisasikan di tahun depan. Aktivitas para warganet ini bisa dikatakan hampir di setiap penghujung tahunnya marak dilakukan, hal ini seakaan menjadi gaya hidup tersendiri para warganet dalam menjalani lika-liku kehidupannya di era digital.

Gaya Hidup Digital

Gaya hidup digital memang sudah menjadi passion baru dalam menjalani kehidupan yang serba kekinian ini. Perubahan menuju gaya hidup digital tengah hangat menghampiri masyarakat Indonesia. Sebut saja masyarakat yang tinggal di kota-kota besar kini cenderung hidup lebih praktis dan lebih memilih menyisihkan uang untuk kesehatan, olahraga, dan piknik, sehingga perubahan yang terjadi ini sangat mempengaruhi keberlangsungan pusat-pusat perbelanjaan atau mall. Bisa kita asumsikan bahwa saat ini terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat yang cendrung menyukai belanja secara daring atau online dibandingkan dengan offline. Alhasil aplikasi seperti BukaLapak, Shopee ataupun TokoPedia tumbuh subur di kalangan anak muda digital yang menjadikannya tempat bertransaksi online (marketplace) untuk membeli kebutuhan dan keinginannya dalam menjadi keseharian.

Perubahan gaya hidup masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari pola konsumsi (e-commerce) semata, dalam laju perkembangan pola transportasi, masyarakat Indonesia juga telah mengalami pergeseran pola dan gaya penggunaan transportasi. Saat ini muncul vendor-vendor penyedia transportasi online, seperti halnya Go-Jek, Grab dan Uber yang dianggap lebih memudahkan karena pertimbangan kecepatan, keamanan dan kenyamanan dibandingkan ketika memilih angkutan umum atau transportasi yang disediakan pemerintah sebagai layanan publik.

Seperti yang diungkapkan oleh Anthony Gidden, bahwa perkembangan Teknologi dan Informasi kini menggeser ruang publik dari komunikasi langsung menjadi komunikasi melalui layar. Komunikasi yang dulunya dilakukan secara face to face, kini menjelma menjadi komunikasi online. Revolusi Industri 4.0 memang memunculkan istilah de-massification, dimana demasifikasi ini merupakan sebuah perubahan dari penggunaan secara massal (massification) teknlogi komunikasi menjadi penggunaan individual. Hal ini membawa angin segar sekaligus badai polemik tersendiri dalam perkembangan pola kehidupan masyarakat. Pergeseran pemikiran dalam masyarakat yang berlangsung secara cepat dan revolusioner tidak bisa dipungkiri akan mengakibatkan terjadinya benturan dalam nilai dan norma sosial yang telah mapan terbangun terlebih dahulu dari beberapa abad sebelumnya.

Sebut saja salah satu hal yang menjadi viral di era digital sekarang ini adalah munculnya istilah “Kaum Rebahan”, istilah ini mulai muncul sejak aksi demo para mahasiswa pada September lalu dan terus digaungkan hingga saat ini. Istilah kaum rebahan merujuk pada orang-orang yang lebih memilih untuk bersantai dan berbaring di kasur daripada mengisi waktunya dengan hal yang positif dan produktif. Istilah ini juga telah berevolusi dalam kehidupan menjadi sebuah gaya hidup baru di era digital. Kehidupan yang semakin modern memang membawa manusia pada pola perilaku yang unik, yang membedakan individu satu dengan individu lain dalam persoalan gaya hidup. Bagi sebagian orang, gaya hidup merupakan suatu hal yang penting karena dianggap sebagai sebuah bentuk ekspresi dan hal ini juga kadang memberikan missperspesi pada kalangan yang tidak hidup dalam masyarakat modern.

Seperti istilah kaum rebahan, dalam perkembangannya yang kontroversial, ternyata menimbulkan stereotip negatif terhadap para milenial. “Malas, kurang produktif, melewatkan kesempatan, tidak mempunyai target, serba instan, tidak menghasilkan apa-apa” adalah sebuah pelekatan identitas yang menjadi stigma terhadap kaum rebahan. Pandangan negatif terhadap kaum rebahan menjadi tikungan terjal yang harus siap dijalani dan dilewati dalam menyongsong kaum rebahan yang kokoh walau terpaan badai silih berganti menghampiri, karena kaum rebahan yang tegar adalah mereka yang senantiasa mempersiapkan dirinya menghadapi hembusan angin kencang dan desiran gelombang ombak dalam mengarungi lautan kehidupan eaaa.

Lalu bagaimana kaum rebahan menyiapkan resolusinya?

Dilansir dari laman news.detik.com bahwasannya terdapat banyak riset yang membantah stereotip milenial sebagai generasi pemalas. Aktivitas berbaring di kasur bagi generasi milenial bukanlah hambatan untuk tetap produktif. Dengan berkembangnya teknologi dan media internet, memungkinkan para milenial untuk menuntaskan tanggung jawabnya dimana pun dan dalam kondisi apapun, termasuk berbaring. Sembari berbaring, para milenial dapat ber-multitasking, seperti belajar, belanja, bersosialisasi di satu waktu yang sama. Tidak hanya hal yang sifatnya menghibur, sambil berbaring para milenial juga mampu menjalankan bisnis secara online. Berdasarkan riset, 7 dari 10 milenial mempunyai jiwa entrepreneurship yang tinggi (IDN Research Institute, 2019). Tidak heran saat ini banyak bisnis online yang bermunculan. Selain itu, banyak juga milenial yang beralih dari pekerjaan yang pergi pagi pulang petang menjadi pekerjaan yang lebih fleksibel seperti freelance. Laporan dari Freelancers Union dan Upwork menyebutkan bahwa sebanyak 47 persen pekerja generasi milenial memilih bekerja freelance.

Terkait dengan stereotip yang muncul bahwa generasi milenial adalah generasi yang enggan bekerja keras, riset oleh ManpowerGroup memberikan hasil yang mengejutkan. Riset tersebut menunjukkan bahwa para milenial bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya. Sebanyak 73 persen milenial di dunia bekerja 40 jam seminggu dan seperempatnya bekerja lebih dari 50 jam seminggu. Selain itu, sebanyak 26 persen di antaranya mempunyai lebih dari satu pekerjaan.

Berdasarkan data-data tersebut, maka stereotip negatif yang muncul terhadap generasi milenial sebagai kaum rebahan tidak sepenuhnya benar. Namun, stereotip dari sekelompok ourang terhadap orang lainnya memang hal yang tidak dapat dihindari. Munculnya stereotip tidak lain karena tiap-tiap kelompok mempunyai perbedaan masing-masing sehingga menimbulkan cara pandang tertentu.

Menyambut tahun baru 2020 M ini, dengan data di atas, kaum rebahan dapat mengokohkan saka optimismenya untuk tetap berkontribusi positif dan produktif, kaum rebahan pula harus jeli melihat peluang guna dapat meminimalisasi stereotip negatif pada dirinya. Karena menjadi generasi milenial di tengah kehidupan digital ini memang sangatlah dipenuhi dengan polemik yang sewaktu-waktu dapat membuat kita down terpuruk dalam lembah kenestapaan. Juga menghadirkan patah hati yang tak berkesudahan. Mengapa? Karena patah hati di era digital ini tak lagi identik dengan putus dari sang kekasih, tapi patah hati pun telah berevolusi, ia bisa saja hadir ketika kita hanya berdiam diri digilas oleh zaman, sibuk mendengarkan hujatan tanpa niat untuk melakukan perubahan, sementara orang-orang disekitaran kita tengah sibuk memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih berguna dan bermanfaat bagi kehidupan.

Semoga saja, kaum rebahan dapat menjadi kaum tangguh, walau halangan-rintangan kian hadir mendekap jiwanya, ini tidak membuatnya menjadi generasi yang bermasalah dan penuh beban pikiran. Siap menyambut tahun baru dengan resolusi, tak hanya menjadi angan, namun dapat diaktualiasi agar tak sekadar menjadi basa-basi atau halusinasi.

Anthony GiddenKaum RebahanResolusi 2020Resolusi Tahun Baru
Leave a Response

Tinggalkan Balasan