fbpx
2fca714b42cc0d0025a187d69ca24cce.jpg

Merajut Harmonisasi di Ambang Kesadaran

-

“Dunia Semakin Tua, Kehidupan pun Semakin Menggila”

Mungkin pernyataan inilah yang mewakili berbagai kegelisahan umat manusia atas kenyataan hidup yang dijalaninya saat ini. Perkembangan zaman dengan segala kecanggihan teknologi yang diberikan untuk memudahkan pekerjaan, arus informasi yang dengan luasnya dapat diakses serta kemudahan dalam berkomunikasi, lantas tidak membawa umat manusia mencipta ketenangan dan menuai kedamaian.

Sejak beberapa dekade ini, umat manusia diperhadapkan dengan kenyatan baru dalam kehidupan seiringan berubahnya aktivitas manusia. Perubahan aktivitas yang terjadi di masa ini, telah mempengaruhi kebiasaan dan tata cara berkehidupan manusia. Era digitalisasi yang merembet
ke seluruh lapisan kehidupan, tak dapat dipungkiri telah mengubah gaya hidup (life style) umat manusia sehari-hari, termasuk pula dengan cara belajar, bekerja, cara berhubungan sosial kemasyarakatan, bahkan hingga mengubah gaya pekerjaan harian yang digeluti oleh umat manusia.

Pesatnya perkembangan zaman telah merubah kondisi dan perilaku manusia cenderung lebih instan, karena kecanggihan teknologi banyak yang menggantikan peran-peran tertentu yang biasanya dilakukan “secara fisik” oleh manusia digantikan oleh peran digitalisasi saat ini. Hal ini tentu tidak membawa dampak positif secara keseluruhan bagi kelangsungan kehidupan manusia, namun ini juga membawa sebuah kecemasan baru. Kecemasan dimana manusia, kini akan bersaing dengan kecanggihan teknologi yang dibuatnya sendiri.

Sebagaimana yang digambarkan oleh salah seorang sejarawan kelahiran Israel yang kontroversial dengan karya-karyanya. Yuval Noah Harari, lewat bukunya, 21 Lessons: 21 Adab untuk Abad ke-21, bahwa “ancaman yang paling mematikan yang akan dan telah hadir bagi umat manusia adalah teknologi.”

Terdapat dua kemungkinan yang manusia dapatkan dari teknologi itu sendiri. Pertama, teknologi dapat membantu mempermudah pekerjaan. Kedua, teknologi dapat menggantikan sebagian besar peran manusia. Teknologi sejatinya memang membantu manusia, tetapi apakah yang dimaksud dengan membantu? Manusia mana yang akan terbantu? Manusia kaya ataukah manusia miskin? Pada akhirnya teknologi, dalam penjelasan Harari, akan semata membantu segelintir kelas yang memiliki kekayaan (modal) saja. Sementara teknologi berkembang, manusia tanpa modal (kapital, kesempatan, skill, dan lain sebagainya) akan tergantikan. Kondisi saat ini, teknologi telah banyak menggantikan pekerjaan manusia, misalnya: dalam bidang pertanian, penanaman padi ataupun pemanenannya hanya dibutuhkan satu dua mesin spesifik sehingga dapat menggantikan tenaga (sekaligus upah) dari banyak pekerja.

Tak hanya persoalan pekerjaan, kecemasan dalam hubungan sosial-kemasyarakatan juga kian menjadi boomerang kehidupan bagi umat manusia. Relasi kehidupan yang dibangun oleh manusia dalam kehidupan di era digital ini tak terhindar dari sebuah ketegangan dan konflik. Ketegangan dan konflik kian menjadi keniscayaan dalam kehidupan, menjadi suatu hal yang tak urungnya selalu menghiasi peradaban kehidupan manusia. Hal ini tak ubahnya seperti rasa kantuk saat mendengarkan khutbah Jumat. Ia amat mudah menular dan dilakukan secara terus-menerus. Seperti mata rantai, konflik terus mengejewantah, lahir dari rahim-rahim keberingasan, terus hadir dalam tapak tilas peradaban manusia. Dan pada akhirnya, setiap manusia berusaha menyakiti satu sama lain. Namun, manusia lupa mencari solusi karena terlalu sibuk mempraktikkan tindakan tersebut.

Jika dahulu konflik sosial terjadi karena gesekan secara fisik antar individu atau kelompok dalam sebuah realitas masyarakat, maka saat ini ketegangan dan konflik bisa saja timbul berawal dari penyebaran informasi viral di media sosial dan meluas menjadi konflik sosial secara fisik dalam masyarakat. Hal ini tentu saja telah merubah pergeseran realitas sosial yang ada saat ini, bahwa tidak selamanya ketegangan dan konflik dimulai dari gesekan secara fisik, tetapi bisa dipicu oleh informasi-informasi yang tersebar secara daring dan diakses secara viral oleh publik.

Melihat fenomena kehidupan sosial kini, dimana ketegangan dan konflik berevolusi dan menjelma dalam kehidupan digital manusia, bisa dikatakan bahwa manusia kini terjerembab dalam sebuah liang dimana mereka susah menciptakan relasi dalam suasana harmonis. Terperangkap dalam tirani yang menggerogoti dimensi kemanusiaannya. Perjumpaaan manusia dengan orang lain dalam kehidupan dunia mayanya kini bisa menjadi ancaman. Pengaruh dunia maya dalam perilaku sosial ini menurut Thomas Hobbes dipandang sebagai daya gerak agresif dan jahat yang dimiliki oleh manusia terhadap orang lain (homo homini lupus), sehingga peluang untuk merasakan hidup yang damai, penuh kebahagiaan, bebas dari kebencian, kekerasan, dan kejahatan susah dicapai.

Perlu dipahami bahwa disharmoni relasi antara manusia bukanlah sesuatu yang diharapkan terjadi. Oleh sebab itu, menjadi suatu keprihatinan bila kebencian yang merupakan wujud disharmoni mendominasi hidup manusia. Suasana hidup yang diharapkan adalah keharmonisan. Untuk mencapai keharmonisan itu perlu sebuah kesadaran melalui pendidikan bagi setiap manusia supaya memiliki vision dan redemption, sehingga relasi manusia dengan manusia lainnya harmonis dan saling menyelamatkan.

Pendidikan : Upaya Merajut Kembali Harmonisasi Kehidupan

Pendidikan membutuhkan proses transformasi supaya pendidikan mampu memberikan bekal pada generasi. Pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia yang mencakup pengetahuannya (kognitif), nilai dan sikapnya (afektif), serta keterampilannya (psikomotorik). Dalam hal ini pendidikan bertujuan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik. Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang berguna bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam kehidupan sosial-kemasyarkatan maupun dalam upaya pencegahan dan penyelesaian sebuah konflik ataupun lainnya.

Pendidikan sejatinya tidak hanya diorientasikan untuk menyiapkan peserta didik menjadi angkatan kerja dan terserap untuk bekerja atau menjadi entrepreneur. Karena sebagaimana penjabaran UUD 1945 tentang Pendidikan yang dituangkan dalam UU No. 20 Tahun 2003
Pasal 3 menyebutkan bahwa “Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.”

Era digital memacu peran pendidikan agar dapat menghasilkan anak-anak bangsa yang sanggup menempatkan diri di tengah deru perubahan yang cepat, pilihan-pilihan jamak dan hidup yang cepat serta penuh tekanan. Lebih dari itu, dalam dunia pendidikan, pendidik berkewajiban moril untuk mendorong mereka menjadi manusia yang hidupnya mampu menggali makna dan memiliki akar pada nilai-nilai yang luhur, gambar diri yang kokoh dan ambisi-ambisi yang bermanfaat bagi manusia lain selain diri sendiri sehingga tercipta sebuah keadaan yang harmonis ketika dihadapkan dengan realitas kehidupan sosial di tengah gemuruh polemik perkembangan zaman.

Melakukan transformasi di bidang pendidikan pada era digital ini sangatlah penting, agar generasi penerus bangsa mempunyai moral yang baik dan kesadaran reflektif akan berbagai problematika yang akan dihadapinya di kehidupan nyata. Tidak hanya menjadi manusia yang mampu berkompetisi dalam mencari pekerjaan, namun memiliki kemampuan untuk menghadirkan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Maka dari itu dibutuhkanlah usaha dari segenap perangkat kependidikan untuk meluruskan kembali tujuan dan falsafah pendidikan kita agar segenap kegiatan pendidikan dapat mengaktualkan seluruh potensi manusia (peserta didik) sehingga benar-benar melahirkan manusia sejati.

Selain itu, hal yang perlu kita garis bawahi disini sebagaimana yang disampaikan oleh Haidar Bagir dalam bukunya Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia adalah bangsa apa pun tak akan pernah bisa keluar dari kubangan kekacaual moral jika hukum tidak ditegakkan, atau bangsa itu kosong dari pemimpin-pemimpin yang berintegritas, ataupun sendi-sendi institusi-institusi sosialnya, mulai dari keluarga, sekolah, dan kehidupan beragama, sebagai medan dan lingkungan praksis hidup berkarakter, goyah diterpa kekacauan. Karenanya, tidak bisa tidak, upaya sinergis di antara berbagai institusi sosial-politik dan pendidikan menjadi suatu keharusan.

Berangkat dari hal ini, mungkin mendambakan atau memimpikan kehidupan yang terhindar dari ketegangan dan konflik antar umat manusia adalah sebuah hal yang terkesan utopis. Namun dalam mencipta ketenangan dan menuai kedamaian merupakan tugas dan tanggung jawab bagi manusia. Agen utama penyelamatan kehidupan manusia adalah manusia sendiri karena hanya manusia yang memiliki akal dan kehendak untuk keluar dari situasi yang tidak menyenangkan ini. Hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua sebagai umat manusia, dan keberhasilan pendidikan dalam melahirkan manusia yang memiliki kesadaran dan kepekaan serta mampu mengaktualkan potensi dirinya dalam menghadapi berbagai macam fenomena di era digital ini merupakan jalan yang memberikan harapan untuk mewujudkan hal itu.

#Digitalisasi #Konflik #Pendidikan #YuvalNoahHarari #ThomasHobbes #HaidarBagir