fbpx
Menyembeli Kebinatangan, Memulihkan Pendidikan di Samudera Ketegangan

Menyembelih Kebinatangan, Memulihkan Pendidikan di Samudera Ketegangan

-

Seorang pemuda terbangun dari tidur lelapnya di pagi hari, cucuran keringat membanjiri kening hingga pelupuk matanya. Ia terbangun dari mimpi yang membuatnya cemas untuk melangkahkan kaki keluar dari bilik kamar yang selama ini menjadi ruang untuk merebahkan lelahnya. Ada hal yang tetiba saja membuat dirinya berkecamuk, menghadirkan perdebatan alot antara rasa dan rasionya.

Mentari di luar kamarnya tengah memberikan cahaya kehidupan pada semesta, pada semua ciptaan yang di hamparkan bumi, tapi tidak pada apa yang tengah ia rasa dan pikirkan saat ini. Mimpi yang ia alami, menghadirkan kegelisahan yang menghunus relungnya. Dalam sepercik ingatan tentang apa yang ia lihat dalam mimpinya, orang-orang di sekilingnya yang dulu senantiasa berbagi perhatian, semangat ataupun motivasi dalam menjalani kehidupan, tetiba berubah menjadi orang-orang yang menghancurkan semuanya. Teman-teman yang dulunya menjadi tempat berbagi keluh-kesah, kini berbalik arah menjadi sosok yang tak lagi peduli dengan dirinya.

Sosok yang sewaktu-waktu dapat menikamnya dari arah yang tak diduga-duga. Sosok yang kapan saja, dimana saja bisa seketika menguburkannya ke liang kebinasaan.

Semua itu terjadi karena satu hal, peradaban yang ia lihat kini mengubah dunia menjadi tempat keserakahan manusia, tempat dimana manusia tak lagi memupuk kebaikan dan cinta, tempat dimana manusia tak lagi mengindahkan kebahagiaan dan kedamaian, tapi menjadi tempat dimana mereka disibukkan dengan aktivitas yang membuat mereka lupa tuk berbagi senyum dan tawa bagi sesama. Dilenakan oleh kepentingan dan hasrat untuk saling berebut kekuasaan dan keinginan, dibutakan dan ditulikan oleh nafsu kesombongan dan kebejatan. Ini menjadi kekhawatiran yang membuat dirinya sangat begitu cemas, jikalau memang benar terjadi di dunia nyata.

Hal yang tengah dirasakan oleh pemuda ini senada dengan apa yang dikatakan oleh seorang Filsuf berkebangsaan Inggris yang beraliran empirisme, Thomas Hobbes, bahwasannya manusia adalah “homo homoni lupus”. Sebuah kalimat bahasa latin yang berarti “Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya”. Istilah tersebut pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus berjudul Asinaria (195 SM lupus est homo homini). Istilah tersebut juga dapat diterjemahkan sebagai “manusia adalah serigalanya manusia” yang diinterpretasi berarti manusia sering menikam sesama manusia lainnya. Istilah itu sering muncul dalam diskusi-diskusi mengenai kekejaman yang dapat dilakukan manusia bagi sesamanya.

Erich Fromm, seorang filsuf berkebangsaan Jerman yang tulisan-tulisannya kerap digemari oleh kawula muda karena banyak menyinggung tentang seni mencintai atau menggambarkan bagaimana memaknai hakikat cinta, dalam buku yang ia tuliskan berjudul “The Heart of Man” memaparkan bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya cenderung menjadi sosok serigala yang menjadi momok menakutkan bagi orang lain di sekitarnya.
Hal ini dapat dilihat saat manusia memperlihatkan kekejaman dalam perang, dalam pembunuhan dan pemerkosaan, dalam penindasan yang lemah oleh yang kuat ataupun dalam fakta bahwa dengusan makhluk yang tersiksa dan menderita sering jatuh ke dalam telinga yang tuli dan hati yang membatu.

Manusia yang telah digerogoti oleh hasrat membabi buta dalam dirinya, seakan tidak peduli jikalau perlakuan dan perbuatan yang ia lakukan saat melukai hati orang lain menimpa keluarganya, bahkan dirinya sendiri. Nyaris dapat kita saksikan di semua bidang kehidupan hukum rimba digunakan. Manusia bak binatang yang hanya ingin memuaskan hasratnya semata. Tidak peduli apakah hasratnya itu melanggar hak orang lain, merusak ekosistem lingkungan, bahkan menghina aturan Tuhan yang adiluhur. Padahal akal diberikan agar manusia memahami dan menemukan makna dan pembelajaran setiap aturan tersebut. Akal pula yang mengarahkan manusia agar berbuat kebajikan bukan malah sebaliknya. Dan dengan akal manusia harusnya beda dengan binatang.

Sifat kebinatangan bukan hanya merugikan orang lain maupun negara. Sifat tersebut juga mempengaruhi diri sendiri. Ia menjadikan alat sebagai tujuan sehingga ia tak pernah mencapai tujuan itu sendiri. Kesalahan itu berakibat pada seringnya manusia diperalat oleh alat. Ada manusia yang diperalat uang, ilmu, jabatan, kekuasaan, dan hal lainnya yang harusnya dijadikan alat namun malah memperalat manusia. Ada yang berilmu diperalat ilmunya sehingga menjadi congkak bahkan pongah.

Ketidakdikan, kebejatan dan kebiadaban seakan sudah menjadi hal lumrah di mata manusia, menjadi makanan lezat yang siap santap ketika hasrat kebinatangan hadir membelenggu jiwa. Binatang dalam diri manusia selama ini selalu mendominasi setiap tindakan manusia. Wajar bila ada kasus seorang pemimpin agama membodohi pengikutnya, seorang kepala daerah maupun pemimpin politik mencuri uang rakyatnya sendiri, bahkan seorang pendidik yang tega memperkosa atau mencabuli peserta didiknya sendiri.

Perkembangan zaman memang membawa peradaban ke arah yang lebih pragmatis, kekejaman manusia semakin hari semakin berevolusi. Kualitas kemanusiaan pun dapat dikatakan tereduksi. Pendidikan yang sejatinya dijadikan sebagai usaha untuk memanusiakan manusia, kini banyak ditemui fakta yang menjadi ironi. Betapa banyak keluhan orang tua dan para pendidik tentang perilaku anak didik. Anak cenderung kurang menghargai orang tua, kurangnya sopan santun dalam bersikap, karakter tidak sabar dan budaya instan dalam menggapai tujuan mewarnai perilaku keseharian mereka. Anak cenderung egois mementingkan diri sendiri dan hampir hilang budaya untuk membantu sesama.

Persoalannya terletak pada kurangnya pendidikan dan sosialiasi filosofi pendidikan, sebagaimana dikeluhkan antara lain oleh Prof. Dr. Winarmo Surakhmad, seorang Tokoh Pendidikan Nasional. Akibatnya, bukan saja hal ini tak sepenuhnya dipahami oleh kebijakan dan praktisi pendidikan kita pada umumnya, melainkan dapat dan telah menimbulkan kerancuan dalam perumusan tujuan pendidikan kita pun tereduksi, dalam rumusan praktik yang pada hakikatnya membatasi pendidikan sebagai suatu upaya untuk melahirkan semata-mata warga negara yang baik dalam rangka membina suatu nasion yang kuat dan mampu untuk bersaing dengan nasion-nasion lainnya, dan bukan individu-individu yang refelektif dan berkarakter.

Akibatnya pula, pendidikan terus-menerus dikuasai oleh penekanan hanya pada domain kognitif dan psikomotorik secara mubazir seraya melupakan domain afektif dan moralitas. Lebih parah lagi, penilaian (assesment) diselenggarakan untuk semata-mata mengukur hasil pencapaian akademis-parsial sesaat peserta didik sambil mengabaikan proses dan cara-cara autentik yang mencakup karakter serta berbagai kecerdasan dan bakat lain peserta didik. Sehingga, pendidikan yang dihasilkan, bisa dibilang banyak mencetak manusia-manusia yang pintar namun cacat diwilayah akhlak.

Ketidak-konsitenan pelaksanaan sistem pendidikan dan seringnya terjadi perubahan dalam regulasi pendidikan, banyak disambut dengan ketidaksiapan para tenaga kependidikan, alhasil penyelenggaraan pendidikan pun semakin buram untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Haidar Bagir dalam bukunya “Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia”, tujuan setiap upaya pendidikan adalah memanusiakan manusia. Dengan kata lain, pendidikan adalah suatu kegiatan untuk mengaktualkan potensi manusia sehingga benar-benar menjadi manusia sejati. Yakni, mengaktualkan berbagai potensinya untuk dapat benar-benar menjadi manusia yang sejahtera dan berbahagia. Manusia-manusia yang memiliki kehidupan yang penuh makna, bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri.

Mengutip ungkapan Tan Malaka, bahwa “Pendidikan bukan hanya sekedar mencerdaskan kehidupan melainkan pendidikan itu juga untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.”

“Lalu apakah mendambakan pendidikan yang lebih bisa memanusiakan manusia di era digital seperti sekarang ini adalah suatu hal yang utopis?”

Semoga saja dengan optimisme ungkapan yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Makarim dalam berbagai kunjungannya untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul lewat pendidikan memang benar-benar membawa angin segar dan semangat baru untuk dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik kedepannya, agar kualitas-kualitas yang dicetak adalah manusia-manusia yang mampu bermanfaat bagi manusia lainnya.

Erich FrommHaidar BagirNadiem MakarimTan MalakaThomas HobbesWinarmo Surakhmad
Leave a Response

Tinggalkan Balasan