fbpx
menghidupi-arus-tengah-dan-merawat-akal-sehat-di-tengah-penyesatan-informasi.jpg

Menghidupi Arus Tengah dan Merawat Akal Sehat di Tengah Penyesatan Informasi

-

Tahun 2019 kemarin adalah tahun yang tidak mudah. Tahun protes, tahun politik, dan barangkali kita juga bisa menyebutnya tahun marah-marah. Semua tergambar!

Perebutan kontestasi politik di Plipres 2019 lalu tidak hanya perbenturan idea vis idea, ide melawan ide. Namun kini lebih condong ke arah populisme yang identik pada isu sara dan agamais. Dan kita semua tahu gelembung letupannya adalah ujaran kebencian dan meningginya sinisme.

Kondisi seperti ini seakan menggambarkan demokrasi kita di mari, bukan lagi sekadar sebuah proyek menentukan nasib bangsa ke depan tapi kini menjelma masuk ke dalam “abad kemarahan”, kata Goenawan Mohamad suatu kali.

Lalu bagaimana denga tahun 2020? Awal dekade ini diprediksi juga dipenuhi disinformasi, propaganda, ruang gema polarisasi yang menggambarkan perubahan cara kita mendapatkan informasi dalam satu dekade terakhir.

Misalnya, Pilpres 2014 dan Pilgub DKI Jakarta 2016 tidak hanya menjadi warisan yang membuat masyarakat terebelah dua, tapi juga matinya akal sehat. Celakanya, lingkungan politik yang semakin beracun ini akal sehat mestinya menjadi modal untuk tetap berpikir lurus. Dan tidak adanya medium untuk mengingatkan akan hal itu menjadi jurang yang membuat masyarakat terjerembab dan berlomba-lomba menuju ke arah yang salah.

Tentu kita semua tidak ingin masuk ke dalam pusaran politik yang tidak etis, maka dari itu penting untuk menghidupkan area tengah. Fungsi pers amat vital di sini, guna melakukan counter disinformasi serta segala bentuk penyesatan opini.

Peran pers sebagai pengkrtik dan watchdog (anjing penjaga) sebagai jantung demokrasi saya rasa krusial guna menyadarkan hal itu. Pers perlu mengonggoi tindakan-tindakan tidak terpuji dari pelaku politik sekaligus melawan kelicikan tingkat elit.

Sejarah mencatat pers di Indonesia menjadi alat perjuangan rakyat, menjadi corong untuk membebaskan suara-suara yang dipenjarakan dan membuka tirai kebohongan, oleh karena itu, tanpa pers perjuangan rakyat tidak mungkin mencapai kemenangan, narasi tersebut telah dibubuhkan oleh Tirto Adhi Soerjo, tanpa pers tidak ada propaganda untuk menggerakkan massa secara masif, dan menciptakan gerakan sosilidaritas (social movement) sebagai alat pembebasan.

Hal itu harus terus dirawat, mewakili masyarakat untuk meng-rem atau menyoroti omong kosong dan kenakalan kubu yang memiliki kepentingan pribadi dengan mengorbankan kepentingan publik. Dari sudut pandang politik elektoral, tentu saja ini adalah cara yang sah untuk memenangkan kontes. Tapi jika ini berlangsung dan dirawat terus menerus dampaknya akan sangat buruk pada masyarakat, karena politik yang sehat dan edukasi adalah wujud dari demokrasi yang ideal. Dan hal ini menjadi tantangan dan pekerjaan rumah jurnalis sebagai anjing penjaga.

Bagaimana mengatasi berita-berita palsu adalah hal yang mesti menjadi tugas besar kita bersama dan harapan itu bertumpu pada produk jurnalisme, saat informasi dan pengepulnya semakin hari semakin membanjiri dan menembus ruang-ruang personal kita.

Kita semua tahu bahwa untuk memperkecil ruang berita palsu adalah uji informasi dengan melakukan periksa fakta (fact checking) karena dengan melakukan hal tersebut informasi-informasi yang terbukti bohong bisa patah dengan sendirinya.

Selain itu, tidak hanya memberikan fakta atas isu yang berkembang, peran pers untuk meningkatkan kualitas demokrasi kita sangat dinilai perlu adalah dengan melalukan literasi media. Tidak hanya sebagai seruan untuk jangan terlalu cepat percaya pada isu yang belum memiliki verifikasi akan tetapi literasi media juga akan mampu membangkitkan kesadaran kritis dalam membaca pesan-pesan yang bertebaran.

Suara pers hari ini harusnya tetap berpegang teguh pada elemen-elemen jurnalisme, memberikan kritik tanpa dipandang sengaja menyerang salah satu kubu untuk menguntungkan pihak lawan. Awak jurnalis harusnya memberi kritik dan ketika mengkritisi, tindakan itu adalah alasan kuat untuk menguatkan masyarakat kita dalam berdemokrasi bukan justru sebaliknya.

Area tengah dan menjadi anjing penjaga saya pikir perlu dihidupkan kembali dalam peta diskursus politik kita saat ini. Pers harusnya adalah orang-orang yang berada di tengah sepenuhnya menyuarakan kepentingan publik.

Perkembangan cepat teknologi komunikasi dan informasi tentu membawa angin segar, dengan demikian semakin besar pula peran pers untuk meningkatkan kualitas demokrasi bangsa ini, tapi kemajuan juga bisa menjadi ancaman dan menjadi utopia semata jika media hari ini terjerumus ke dalam ranah market driven journalism?

Irzandi Ali
Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Bone

Organisasi