fbpx
Kelas-Relawan-Mengajar-KB-Sanggar-Anak-Laut

Call for Volunteer: Belajar-Mengajar Bersama Anak pesisir

-

Ujung Pattiro, Desa Pattiro Sompe, sekitar 25 km dari titik nol Kota Watampone. Sebuah kawasan pesisir yang menyimpan potensi, berupa kekayaan hasil laut yang melimpah. Daratannya yang berkontur bukit, dengan belukar liar merangsek ke kebun-kebun warga yang tak terurus.

Aktivitas warga praktis berorientasi laut. Saat para lelaki turun ke laut, biasanya 5 hingga 10 hari, di rumah, perempuan-perempuan sibuk menyortir rumput laut.

Sebuah kapal merapat, saat kami baru saja sampai di rumah tepian, setelah menyusuri kolong-kolong rumah panggung, diringi lagu dangdut koplo. Kata seorang warga, kapal itu membawa hasil tangkapan, beberapa jenis ikan, pari, juga sotong. Para tetangga, seperti biasanya, datang melingkar. Setelah seorang di antara mereka mengatur tataletak ikan-ikan berdasarkan jenis, ia tak lupa menyodorkan beberapa ekor kepada setiap orang yang datang.

Itu adalah kebiasaan yang sudah berlaku sejak lama. Warga tak harus ikut ke laut untuk sekadar makan ikan. Kampung sebagaimana biasanya adalah keluarga besar, yang tak pernah berhitung untuk saling berbagi. Dengan begitu, tak pernah ada kekuatiran ada warga tidak makan dalam sehari.

Tentu saja jika hidup cukup dengan makan, maka tak perlu kuatir soal bagaimana warga Ujung Pattiro bangun di pagi hari menikmati seduhan teh, dan bersantai di balai-balai kala terik menerkam kapal-kapal yang ditambat di dekat tepian.

Sayangnya, ada kondisi yang mengusik suasana bersahabat itu. Kami menemukan data, terdapat sekitar 130 orang yang putus sekolah. Untuk anak usia dini terdapat sekitar 32 anak. Data itu belum termasuk beberapa dusun tetangga.

Pengakuan warga, bahwa anak-anak mereka urung melanjutkan sekolah lebih banyak disebabkan karena akses ke sekolah yang cukup jauh. Untuk SD, mereka harus menempuh jarak lebih 7km. sementara untuk SMP dan SMA yang letaknya hanya ada di ibukota Kecamatan, Sibulue.

Menjelang magrib kami pamitan, dengan beberapa pertanyaan yang masih menggeliat di dalam kepala. Bagaimana memutuskan siklus putus sekolah itu?

Setiba di Watampone, kami berembug. Kami pikir, penting untuk segera mengambil langkah kecil demi mengurai kusutnya persoalan pendidikan di sana. Kami memutuskan untuk membuka kelas belajar. Sebuah kelas yang bisa saja digelar di bawah pohon berdaun rimbun atau di dalam geladak kapal, di atas balai-balai jemuran rumput laut.

Bagi kami, mereka perlu mengenal aksara. Kami yakin, huruf-huruf yang mereka eja kelak, bisa membuka wawasan serta pengetahuan mereka tentang dunia melalui bacaan. Pengenalan aksara, tentu juga bisa membantu mereka menggunakan Smartphone untuk berkirim pesan menggunakan jempol, tak lagi hanya mengandalkan video call atau voice chat, atau hanya digunakan main game.

Untuk merealisasikan kelas belajar itu, kami berinisiatif untuk merancang program Kelompok Belajar Sanggar Anak Laut. Tentu saja untuk mewujudkannya, kami butuh dukungan dari pihak, orang atau kelompok yang memeluki kepedulian yang sama.

Bagi kawan-kawan yang memiliki kepedulian, senang dengan tantangan, ingin bergabung, belajar dan bergembira bersama anak-anak nelayan, kami mengajak untuk bergabung dengan mengklik form relawan di bawah ini:

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSevE5gzTH3Mms6oGdwCvCUXzxMPnE5CCWtV-suE_VD88AljJw/viewform

Untuk informasi lebih lanjut, kawan-kawan bisa berkunjung ke Kafe Wiis, jalan Jenderal Sudirman Watampone.

Hormat kami,
PKBM Sulolipu
#SalamSalut

Volunteers